Total Tayangan Halaman

Kamis, 18 Agustus 2011

naik gunung rinjani


puncak rinjani

CATATAN PERJALANAN
EKSPEDISI KHANOMAN SUMEDANG
“DARI PUNCAK TAMPOMAS MENUJU PUNCAK RINJANI

gunung rinjani dari pelawangan senaru ( sumber foto google)

jalur pendakian
Salah satu gunung berapi di Indonesia yang terkenal ke seantero dunia adalah Gunung Rinjani. Setiap tahun, tercatat ribuan wisatawan asing dan domestik mendaki gunung berketinggian 3.726 m dpl (dari permukaan laut) ini. Tak pelak lagi, Gunung Rinjani menjadi incaran pencinta petualangan alam bebas.Terletak di sebelah utara tanah Lombok, Nusa Tenggara Barat, Gunung Rinjani merupakan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia. Ketinggian puncaknya hanya terkalahkan oleh Pegunungan Jayawijaya di tanah Papua dan Gunung Kerinci yang berada di tanah Sumatera. Gunung Rinjani merupakan bagian dari sabuk pegunungan yang mengapit sabuk pegunungan mediterania dari Sumatera, Jawa hingga Nusa Tenggara dan sabuk pegunungan pasifik  di Pulau Sulawesi menjadikan Rinjani adalah gunungan dengan kekayaan alam yang luar biasa. Ditambah bahwa fakta gunung Rinjani adalah gunung api aktif, sehingga aspek peninggalan vulkanologi juga menjadi salah satu daya tarik dalam pendakian gunung ini.
Rencana ekspedisi tercetus sewaktu pendakian ke pegunungan kareumbi di lokasi Curug Sabuk Sumedang 1 bulan yang lalu, keinginan untuk bisa mendaki gunung terkenal itu merupakan tangtangan pribadi dari seluruh anggota Khanoman Adventure Team, Khanoman Adventure Team sendiri merupakan Komunitas Pecinta Alam yang bersekretariat di jalan Budiasih atau sering dikenal dengan nama khanoman.  Disanalah kami mempersiapkan rencana ekspedisi menuju puncak rinjani.
Setelah melakukan persiapan secara tertulis berupa Proposal, maka dibentuklah team ekspedisi Khanoman yang kesemuanya berjumlah 5 orang  dengan susunan team adalah:
Ketua  Team                : Restu A. Wiratanumanggala
Anggota ekspedisi:
1. Rd.  Moch. Adhit R. Soemawilaga, wakil Ketua merangkap PubDok. Ekspedisi
2. M. Ilham,  koodinator riset dan pelatihan
3. Ade Rian Santika, koordinator sarana dan prasarana
4. Moch. Dzikri Amarulloh,  Humas dan administrasi
Ekspedisi ini dinamakan sebagai Ekspedisi Khanoman Sumedang “DARI PUNCAK TAMPOMAS MENUJU PUNCAK RINJANI” dengan materi ekspedisi berupa:
1. Team Seni Budaya
a. Seni
Ekspedisi Khanoman Sumedang kali ini merupakan gabungan  dari ekspedisi Petualangan dan Seni-Budaya dimana setiap anggota team dituntut untuk menjadi Duta Seni yang nantinya akan menampilkan salah satu kesenian khas Sunda berupa Karinding, alat musik tradisional ini akan ditampilkan  di kota yang menjadi tempat transit, adapaun rencana kota yang akan dikunjungi dan menjadi tempat tampilnya kesenian karinding ini adalah Bandung, Surabaya, Bali, Lombok dan Jogjakarta.
b. Budaya
Pakaian Pangsi dan ikat kepala berupa Totopong, juga tas tradisional Koja Narimbang Sumedang  akan menjadi pakaian  dan kelengkapan resmi ekspedisi selain pakaian standar pendakian lengkap, pakaian  tradisional akan digunakan diseluruh rute perjalanan, kecuali  waktu pendakian, sedangkan ikat kepala Totopong akan selalu dipergunakan diseluruh rute perjalanan dan pendakian

c. Promo Sumedang Puseur Budaya Sunda
Sebagai bagian dari masyarakat yang bangga akan keberadaan dan pengakuan Sumedang sebagai kota budaya, maka seluruh anggota Team Ekspedisi Khanoman Sumedang, akan memposisikan sebagai mediator Promo dengan mempromosikan Sumedang melalui pamplet, brosur dan Photo.

cek kesehatan
2. Kampanye Sosial
a. Kampanye Anti Rokok
Seluruh anggota team merupakan bagian dari aktifis anti rokok, yang selama perjalanan akan mengkampanyekan hidup sehat tanpa rokok, dengan materi kampanye berupa pamplet dan brosur bahaya Rokok.
b. Gunung Hijau, Sehat, dan Bersih
Khanoman Sumedang berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan gunung dan kehidupan pendukungnya dengan mengkampanyekan Gunung Hijau, Sehat dan Bersih, dengan cara Menuju puncak dan turun hanya meninggalkan jejak semata, tanpa sampah dan anti merusak lingkungan.
3. Media Pendidikan dan Pembelajaran
Team Ekspedisi Khanoman Sumedang akan mencatat dan mengevaluasi keseluruhan hasil Ekspedisi yang nantinya akan menjadi bahan acuan, serta akan disampaikan kepada seluruh pihak yang membutuhkan, hasil evaluasi ekspedisi akan menjadi bahan tambahan dan pembanding demi kemajuan Khanoman Sumedang dan  kabupaten Sumedang khususnya dalam memajukan sektor seni-budaya, pariwisata dan lingkungan hidup.
pelatihan karinding oleh laksadipa sumedang
Materi Pelatihan
Sebelum keberangkatan, semua anggota team mendapat materi pelatihan dan pendidikan yang sesuai dengan keadaan gunung yang akan didaki, pelatihan ini dilaksanakan selama 2 minggu dengan rute yang berbeda dan dengan tingkat kesulitan tinggi, pelatihan ini dibuat agar seluruh anggota team paham akan kondisi gunung Rinjani, seangkan pelatihan kesenian karinding dilatih oleh komunitas kerinding Laksadipa Sumedang

Hari pertama ekspedisi
Jam 6 pagi seluruh anggota team telah bersiap-siap menuju pelataran Gedung Negara untuk mengikuti Upacara pelepasan dari pemerintah Kab. Sumedang yang diwakilkan oleh Bapak Agus Rasidi sebagai Asda III, jam 7.00Wib. upacara dimulai, upacara yang khusus untuk melepas kontingen Ekspedisi Khanoman Sumedang. Pakaian pangsi hitam-hitam lengkap ikat totopong dengan tas rangsel ukuran 75-90liter dengan berat rata-rata 30kg, menjadi perhatian yang sangat nyata diantara sekitar 200 orang yang mengikuti upacara pada hari itu. Rasa bangga menjadi Duta Petualangan dan Pecinta Alam  Sumedang pada hari itu tidaklah mampu kami gambarkan, mendengarkan pidato pelepasan bupati Sumedang yang dibacakan  Pa Agus R. sebagai pembina upacara membuat kami semakin yakin bahwa kami mampu menyelesaikan ekspedisi ini.
puncak tampomas sumedang
Setelah upacara selesai sekitar 30mnt kemudian kami berfoto bersama dan bersalaman dengan para pejabat yang ada, Sesuatu yang langka bagi kami untuk bersama pemimpin sumedang.
Berfoto dengan para pejabat Sumedang ternyata tidak berhenti sampai disitu… kebanggan kami semakin bertambah ketika Sekda Sumedang bapak Atje Arifin A. menerima kami walau hanya 10 menit diruangannya, cukuplah bagi kami untuk menjelaskan maksud ekspedisi kami, acara dadakan itu berakhir dengan foto bareng bersama Sekda Sumedang.
bersama para pejabat sumedang
bersama sekda sumedang
Kemurahan hati para pejabat Sumedang membawa kami ke AKPER Sumedang untuk periksa kesehatan, tentunya ditambah tumpangan gratis dan pelayanan ramah dokter yang memeriksa kami, tidaklah menunggu lama surat keterangan sehatpun kami dapat sebagai salah satu sarat pendakian, semua sudah komplit, ayo brangkat…!!!!
Jam 12 siang tanggal 13 juli 2011 team bergerak meninggalkan Sumedang menuju Bandung, minibus yang kami tumpangi serasa sesak, bagaimana tidak sesak?, perlengkapan yang kami bawa menghabiskan setengah ruangan minibus, seakan mau pindahan ha ha…., selamat tinggal Sumedang tunggu kami 9 hari mendatang…
Jam 15.00 kami sudah berada di stasion KA Bandung, menunggu pemberangkatan KA Malabar dengan tujuan Bandung- Malang, tiket yang telah kami beli jauh-jauh hari dibagikan ke masing-masing anggota team, dan tepat jam 15.30 kereta berangkat menuju Malang.
Perjalanan kereta Api malam ini sungguh membosankan, 20 kota kami lewati begitu saja, sebagian besar perjalanan dihabiskan anggota team dengan tidur, walau tetap bukan tidur yang menyenyakkan.
Hari kedua
Jam 8.22 tanggal 14 juli 2011 kereta sampai dipemberhentian terakhir kereta Malabar, terlambat 11 menit dari jadwal, perjalanan dilanjutkan menuju terminal bus malang menggunakan angkutan kota, rangsel yang memenuhi angkot tersebut membuat kami harus membayar lebih, Rp 30.000,- dan kami bayar untuk perjalanan yang hanya kisaran 1km itu, terasa sangat mahal tapi tak apalah, daripada harus berjalan sejauh itu.
Terminal Malang bukan terminal yang ramah bagi pendatang seperti kami, para calo silih berganti mendatang kami, beberapa copet termasuk didalamnya, tolakan halus kami tidaklah mempan, malah mereka semakin gencar memaksa dan mencari celah mengambil beberapa barang milik kami, bukan orang Sumedang kalo kami tak mampu melewatinya, setelah berganti pakaian menjadi hitam-hitam lengkap dengan totopong, penderitaan sesaat itu akhirnya mundur, mereka segan atau… takut ha ha…
..
Angkutan menuju Mataram atau Bali saat itu sangatlah sulit, kalaupun ada harganya ga cocok bagi kami yang melakukan perjalanan dengan biaya paspasan, baru jam 11 siang ada kendaran yang menuju bali, bus Dahlia…. MURAH…. Hanya Rp.80.000.-/orang, tapi disinilah kesengsaraan itu dimulai…, bagaimana tidak kami tertipu mentah-mentah, kami akan sampai ke Bali jam 4 keesokan harinya, artinya 18 jam…… dan itu baru kami ketahui setelah 5 jam perjalanan, tidak terbayang 18 jam dalam bus….., tapi asikin aja, ini petualangan bung…!!!
Hari ketiga
Jam 12 malam kami baru menyebrang ke Bali, penatnya perjalanan darat itu sedikit terobati ketika kami berada di kapal Fery, punggung dan pantat yang panas sedikit adem bersentuhan dengan dinginnya udara laut Bali, sayang perjalanan laut itu hanya setengah jam, kami pun harus kembali ke bus, ah… kembali ke jok panas lagi…
Beberapa bule dengan tubuh raksasa mulai menaiki bus kami…. Bule kere mungkin… naik bus ekonomi dan mereka duduk di jok belakang bersama kami, yang tentu saja membuat kami berhimpitan, tertidih dan menjadi sandaran tidur mereka…. Sial makin remuk tubuh kami, belum sampai puncak Rinjani pegal sudah terasa.
Terminal Ubung Bali mengakhiri penderitaan perjalanan 2 pulau kami, 5 menit kemudian kami sudah berada di mobil menuju pelabuahan Padang Bai, bagi supir angkutan itu, kami tetaplah sama seperti turis bule lainnya ongkos yang diminta Rp 40.000,-/ orang, mahal sekali padahal perjalanan hanya 1 jam…. Ini bener-benar Bali.
Jangan kira perjalanan selanjutnya adalah indah, ini masih cerita tentang penderitaan, keberadaan preman yang banyak di pelabuhan itu membuat kali ini kami harus angkat tangan, resiko kehilangan rangsel dan tas membuat kami harus berpikir ulang, mencari selamat dengan mengikuti ajakan preman adalah jalan terbaik, dan tentunya sedikit jaminan sang preman bahwa kami akan mendapat harga yang murah dan jaminan keselamatan di Fery, bukan takut tenggelam tapi yaitu tadi… copet, palak dan perampokan…,  memang Rp. 25.000,- lebih murah dari tiket keseluruhan tiket resmi, tapi kami merupakan penumpang gelap pelayaran kali ini, dag dig dug… takut ketahuan, berada di dek atas seperti penyelinap saja, 4 jam perjalanan sangat lama sekali, bertemu dengan krew fery seminimal mungkin kami hindari, tapi memang benar para preman yang tadi itu ternyata menguasai seluruh area fery ini, kami akhirnya aman menuju Lombok….. good bye Preman, thank you….!!!
Turun dari truk yang menjadi kendaraan kami sewaktu lintas pulau Bali atas saran preman tadi, ternyata angkutan terbaik menuju terminal Mataram, kerena setali tiga uang, akan semakin banyak preman dipulau Lombok ini,  artinya kita akan menjadi ladang peras-an bagi mereka, tidak percaya silakan coba… ini pulau penuh preman dan copet…., atas saran supir truk yang membawa kami keluar pelabuahan kami akhirnya tidak berhenti diterminal melainkan 1km jauhnya, menghindari palakan dan kejahatan lainnya, bagaimana aparat perhubungan dan Polisi……???  maaf mereka sama saja, ga punya nyali…. Dan malah menerima sogokan.
Setelah makan siang menu cadangan tempo hari,  pukul 1 siang kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Sembalun, carter mobil Rp 350.000,- kami akhirnya diantar menuju pos pendaftaran Taman Nasional Gunung Rinjani, perjalanan ditempuh dalam waktu 4 jam, namun lamanya perjalanan ini tidaklah sebosan  perjalanan yang lalu, pemandangan yang indah sepanjang jalan, aktifitas masyarakat yang melaksanakan agustusan hampir sepanjang jalan, dan cuaca yang bersahabat, serta banyaknya hewan sepanjang jalan seperti, sapi, kambing maupun monyet Taman Nasional mewarnai perjalanan menuju kaki Gunung Rinjani.
Sore hari sekitar jam 5 petugas Taman Nasianal Gunung Rinjani menerima kami dengan Ramah, registrasi dan pendaftaran dilayani dengan penuh persahabatan, pendaftaran masuk yang hanya Rp. 2.500,- jauh berbanding dengan nilai petualangan dan keindahan yang akan kami dapat, salut bagi pemerintah Lombok dan desa Sembalun yang mengedepankan pelayanan daripada bisnis semata, arahan dari petugas Taman Nasional mengiringi awal perjalanan kami, tidak dipersulit…. Kami benar-benar seperti tamu yang mendapat pelayanan penuh dan VIP.
Setelah berdoa meminta keselamatan di perjalanan Rute pertama POS TN Gunung Rinjani menuju POS 1 dimulai…, hanya jalan desa biasa, sedikit tanjakan dan turunan ini bukan masalah besar, beratnya rangsel masih bisa kami atasi, namun perjalanan menyenangkan itu tidak berlangsung lama, setelah 1 jam perjalanan yang diselangi makan sore team, kami mulai memasuki padang savana, inilah rute terberat pendakian, disinilah suhu panas extreme biasa terjadi, menurut petugas di Pos saja tadi siang suhunya 49’C,  namun kami sedikit pintar, ini sore hari suhu extrem itu telah lewat, kami hanya tinggal waspada hewan liar yang ada saja seperti ular, babi hutan, landak ataupun kijang dan kancil. Jam 7 malam suhu mulai dingin, semua anggota team segera mengenakan jeket, kita berada di ketinggian 1240 mdpl dengan angin kencang yang sangat dingin, pendakian menuju POS I yang kiranya biasa dicapai dengan waktu 2 jam akhirnya tuntas dengan kelebihan waktu 2 jam, sebuah rekor terlambat yang memalukan he he…
9 malam kami sampai di POS 1, bergegas kami mendirikan tenda, selanjutnya memulai pengisian perut dengan menu yang lebih mengenyangkan dan nikmat…. Nasi liwet bos…. Makan besar dimulai… di POS I itu kami tidaklah sendiri, 2 tenda telah terpasang sebelum kami sampai, yang merupakan tenda team dari gabungan Surabaya dan Padang, dengan porter dari mahasiswa UNRAM, sebanyak 12 orang nge camp bersama disavana Rinjani ini. Tidur dengan Sliping Bag dan matras yang rata lebih menyenyakan, jauh berbeda dengan di bus atau kereta api,  jam 10 malam, selamat tidur kawan..zzz…zzzz….zzzz….
Hari keempat
Jam 5 pagi hampir seluruh anggota team telah terbangun, bukan kerena biasa bangun pagi, melainkan suhu pagi hari yang ternyata menusuk tulang semenjak jam 1 dini hari tadi, slipingbag, 2 jaket, sarung tangan, kupluk juga kaus kaki tidak mampu menahan dinginnya savanna di pagi hari, drzzz…drzzz… dingin sekali…
Dzikri dan Ilham bertugas memasak pagi itu, semuanya lancar dan enak sekali… kecuali bubur kacang yang entah mengapa tidak mau menjadi bubur…. He he kami memang bukan penjual bubur kacang…., sisa bubur kacang ‘nu teu kadiu kadieu’, akhirnya kami bungkus untuk makan siang atau sore nanti. Jam 8 pagi beberapa pendaki mulai berkumpul di POS I, tidak tanggung-tanggung jumlahnya lebih dari 50 orang, yang ternyata mereka adalah 1 keluarga yang sengaja dari bali yang akan melakukan pendakian selama 1 minggu untuk ritual, bagi masyarakat bali gunung Rinjani merupakan gunung suci dan sakral. Wah bakal menjadi pendakian yang menyenangkan nih…
Jam 8 pagi itu kami memulai pendakian menuju POS II, serombongan bule dari Prancis berjumlah 12 orang dan 8 porter  mulai menyusul kami, begitupun rombongan dari bali telah lebih dulu mendahului kami, dan 1 jam selanjutnya team kami pun dilewati rombongan lebih dari 50 bule dari berbagai Negara, kami tidaklah malu disusul oleh team lain ataupun bule… kerena mereka tidak membawa beban seberat kami, mereka hanya membawa air saja, sedangkan tas rangsel di bawa porter masing-masing, uang berkuasa disini, siapa mau santai sewalah porter…
11 siang kami akhirnya sampai di POS II 1524 dpl, padang savanna benar-benar menguras tenaga kami, persedian air di hampir semua anggota team menipis, untung saja, 200m dari POS II ada tetesan air didinding jurang yang membantu kami mengisi penuh persediaan air, rasanya SEGERRRR……, stamina Adit mulai teruji disini, berat rangselnya yang melebihi berat rata-rata berat rangsel anggota team, ditambah membawa Kamera foto, handycam, juga accu kering, membuat adit harus berjalan paling belakang dan banyak istirahat, rombongan mulai terpisah, Dzikri, Ilham dan Rian berada di depan sedangkan saya dan Adit berada jauh di belakang.
Rute savanna yang asalnya landai kini mulai menanjak, teriknya matahari mempengaruhi hampir keseluruhan pendaki, hampir disetiap kesempatan yang bertanah rata atau landai semua pendaki beristirahat, cuaca siang hari benar-benar membakar, 43’C , ditambah angin yang kencang bukan menyejukan malah semakin membuat kulit kami terkelupas, dan sialnya POS III 1819 mdpl yang biasanya penuh air, kini bagaikan gurun…..KERING….., dan seperti biasa ada saja rombongan bule yang menyusul kami, entah tenaga apa yang mereka pakai mereka cepat sekali….
Rombongan keluarga pendaki dari Bali sudah tidak mungkin kami kejar, begitupun ratusan bule yang mendaki cepat, yang memungkinkan bisa kami kejar adalah bergaya di depan kamera… mumpung dirinjani bergaya dulu ah… sekalian buat foto profil di Face book…..
Rute menuju palawangan sembalun adalah rute yang tidak berujung, para pendaki menamakan sebagai  Sembilan Bukit Penderitaan, disinilah seluruh kemampuan pendaki diuji, tanjakan tanpa henti, cuaca yang panas, bahu yang semakin pegal membawa beban, dan persediaan air yang menipis, makin memperjelas panamaan Sembilan Bukit Penderitaan ini. Adit semakin tercecer jauh tenaganya benar-benar dititik habis…. Hanya mentallah yang bisa membuat adit bertenaga kembali, Ilham yang berada 100 diatas kami pun mulai bergetar dadanya, jantungnya berdetak cepat, terlalu cepat menuju 2000mdpl membuat tubuhnya bereaksi, kondisi mulai tidak menguntungkan, jam menunjukan waktu pukul 1 siang. Tinggal 2 jam lagi perjalanan. Akhirnya diputuskan kita istirahat 1 jam di pos antara POS III dan Palawangan sekalian makan siang.
Setelah melakukan istirahat dan makan siang, team kembali melanjukan perjalanan menuju palawangan yang berketinggian 2700mdpl, perjalanan tetaplah sama mendaki menanjak lurus menuju puncak palawangan, sesekali anggota team harus menepi kepinggir ketika bertemu rombongan pendaki yang turun gunung, pendaki yang turun pun tidak tanggung-tanggung, ada lebih dari seratusan yang turun, dan dari mereka pulalah kabar bahwa puncak palawangan dan sagara anakan seperti pasar malem…. Artinya begitu banyak pendaki…
Setelah melakukan perjalanan selama 3 jam setelah istirahat atau pukul 4 sore hari akhirnya kami sampai pula di palawangan Sembalun, POS akhir pendakian hari ini, sepanjang perjalanan tadi sebenarnya kami mendapatkan pemandangan yang indah, seperti padang edelwais, hutan cemara, ataupun jurang-jurang yang tertata indah, namun kerena beratnya rute pendakian membuat keindahan itu tidak terlalu dinikmati.
Area perkemahan yang begitu luas ternyata tidak dapat menampung para pendaki yang datang pada hari itu, monyet-monyet Sembalun kini mulai menjauh, tidak berani mendekat kerena terlalu banyak pendaki, hampir 400 orang berada di samping jurang menuju Sagara Anakan saat itu, keterbatasan ruang untuk mendirikan tenda membuat kami harus benar-benar memangfaatkan sedikit celah antara perkemahan pendaki francis dan swedia, sempit memang tapi paling tidak kita aman kerena beberapa porter bule itu berada disamping kami, yang otomatis menjaga tenda kami kalo ada serangan monyet…
Setelah tenda terpasang, kembali Dzikri dan Ilham juga Rian memasak bagi kami semua, sedangkan saya hanya kebagian memasak air saja….. mudah sekali…, cuaca yang bersahabat menjadikan Adhit yang kelelahan kembali bersemangat, beberapa jepretan foto mampu Adhit hasilkan dengan cukup baik, dan beberapa anggota team pun memangfaatkan situasi ini dengan berfoto bersama bule yang ada, tidak beberapa lama kemudian kami sudah disuguhi hasil masakan petugas masak team, jangan tanya rasanya… yang jelas enak sekali, terbukti semua menu ludes habis termakan….., atau memang kami semua sudah kelaparan kerena terkuras energy di Sembilan Bukit Penyesalan…. Entahlah sepertinya sama saja… he he….
Pasokan air di Palawangan ini tidaklah sesulit di POS III walaupun diketinggian 2700m dpl, namun ada mata air yang dapat digunakan untuk kebutuhan minum dan masak, lokasi mata air yang ada dibalik jurang tidak menghalangi kami untuk melewatinya, kebutuhan yang vital ini menjadi buruan wajib para pendaki, tetesan air yang menetes dari tebing pasir ditampung dalam beberapa botol plastic ukuran 3liter, cukup lama memang untuk menampungnya, kerena memang hanya tetesan air…. Tapi ini berharga sekali…
Suhu di Palawangan Sembalun yang turun drastis menjadi 10 derajat selepas jam 7 menbuat tidak ada pilihan lain untuk seluruh anggota team untuk segera masuk ke tenda dan beristirahat, sebagai persiapan untuk pendakian yang akan dilaksanakan dini hari nanti. Alarm sudah dipasang sebelum pukul 2 dini hari… beberapa bule yang sedang hiburan dengan nyanyi-nyanyi di depan tendanya tidak kami hiraukan…. Kami segera terlelap…
Hari kelima
2 dinihari semua anggota team telah berangkat menuju puncak gunung Rinjani, ini akan menjadi pendakian yang prestisius, tidak semua pendaki mampu melakukannya, rute yang sangat berat, cuaca dingin yang sangat menusuk tulang membuat beberapa orang kehilangan kesempatan menjadi yang tertinggi di pulau Lombok, begitu pula dengan kenyataan bahwa banyak pendaki puncak Rinjani yang pulang tinggal nama. Setelah berdoa beberapa saat kami teguhkan hati, bahwa kami tidak ingin permalukan kontingen Sumedang, kami semua akan mampu naik ke puncak.
Rute pendakian terbagi dalam beberapa tahap pendakian, tahap pertama adalah rute puncak kawah, rute ini terjal dan berdebu, jaraknya pendek hanya 450m, tapi semua orang harus melewatinya dalam jangka waktu rata-rata 1 jam perjalanan, kaki akan terasa panas dan pegal, tenggorakan yang kering menambah sulitnya rute ini. Tahap 2 adalah rute landai, jaraknya 1,5km, bukannya mudah? Rute ini adalah rute tipuan, sepanjang jalan kita dituntut untuk waspada extra, kita berjalan menyelusuri punggungan gunung berupa jurang terjal, jurang dengan ketinggian 1700m mencapai dasar, jalan landaipun bukan hal yang mudah dilewati kerena pasir yang kita pijak adalah pasir lepasan yang membuat kaki terperosok hampir 5cm ke bawah. Rute ini dapat dilewati dalam waktu hanya 1 jam perjalanan. Rute terakhir adalah rute yang kami namakan adalah rute Ulat Bulu, rute yang membuat hampir seluruh pendaki mengurungkan niat mencapai puncak, jarak yang hanya kisaran 200m dengan tingkat kemiringan 75 derajat ini hanya mampu dilewati oleh pendaki yang benar-benar siap saja, rute ini dapat dicapai dalam jangka waktu paling cepat 1 jam, berjalan ditahap ini merupakan ujian sebenarnya dari Gunung Rinjani, 1 langkah maju selalu diikuti setengah langkah mundur, pasir yang kita pijak akan segera bergeser turun menbawa tubuh kita ke posisi semula sebelum melangkah, dari 200 orang yang mendaki saat itu hanya setengahnya yang mencapai puncak sisanya turun, puas dengan photo diarea pendakian saja.
Rombongan team khanoman terpisah dirute tahap 3 ini, saya menjadi orang pertama yang mencapai puncak tepat ketika waktu menunjukan waktu 4.43 pagi bersama pendaki Swiss dan seorang porter, bangga rasanya menjadi orang Indonesia pertama berada dipuncak Rinjani 22 menit sebelum matahari terbit, senang rasanya berteriak keras dipuncak itu, teriakan yang sekaligus yang menghilangkan rasa lelah. Detik-detik matahari terbit di puncak Rinjani dilalui tanpa kamera dan anggota team, mereka ber-empat terpisah jauh dibawah, sebenarnya sewaktu dipuncak pendaki mendapat badai yang sangat dingin, angin yang besar membawa suhu turun menjadi hanya 4 derajat, jari tangan saya sampai tidak dapat digerakan, 2 jaket yang dipakai serasa kain tipis saja… dingin sekali dan sejujurnya saya saat itu menyerah dan hendak turun kembali, namun rencana itu urung setelah seorang pendaki asal Ceko menyatakan bahwa badai akan segera berakhir.
Menjadi orang Indonesia pertama yang berada dipuncak (3726 mdpl) pada pendakian hari itu adalah membanggakan, namun tidaklah lama kerena suasana berganti menjadi suasana studio foto, beberapa bule menitipkan foto padaku meminta untuk difotokan pada detik-detik munculnya matahari, menolak ga mungkin… keramahan orang Indonesia khususnya Sumedang yang aku bawa tidak mungkin aku coreng begitu saja dengan penolakanku, namun memaksakan memoto mereka adalah penderitaan pribadi seorang Restu, sarung tangan sebelah tangan harus dilepas, rasanya seperti mencelupkan tangan kedalam air es sakit sekali…. Benar-benar sakit sekali…
Cuaca berubah menghangat beberapa menit kemudian berbarengan dengan munculnya matahari pagi. Anggota team yang lain belum sampai ke puncak, mereka masih berlomba mengatasi rasa lelah mendaki rute ulat bulu, dan 46 menit kemudian Dzikri mencapai puncak, matahari sudah lepas dari horizon, ucapan selamat dan terima kasih Dzikri terucap langsung dari mulutnya,  melegakanku bahwa anggota team yang lain akan segera menuju puncak, walaupun pada kenyataannya saya harus menunggu 1,5 jam kemudian.
Kesempatan berada di puncak bersama seluruh anggota Team Khanoman Sumedang merupakan saat membanggakan, bendera ekspedisi yang telah kami siapkan kami bentangkan, dengan meminta pertolongan dari beberapa pendaki termasuk para bule untuk memfoto beberapa gaya kami, terciptalah photo yang akan kami bakal kenang seumur hidup, Jayalah Indonesia..!!! jayalah Sumedang…!!!, jayalah Khanoman Sumedang…!!! Dan Jayalah STIMIK Sumedang…!!! ( hanya Adhit yang berteriak kali ini… he he… almamater katanya sambil tersenyum….).
Udara masih terasa sangat dingin, namun membahayakan bagi kami bila berlama-lama di puncak gunung Rinjani, suhu akan naik cepat menjadi di atas 40 derajat hanya dalam hitungan menit ke depan, jam 7.30 kami segera bergegas turun, kembali menuju tempat camp di Palawangan Sembalun. Perjalanan turun sebenarnya mudah saja, namun kerena pasir yang ikut turun juga, kami harus hati-hati melangkah atau akan jatuh menggelinding, 1 jam kemudian kami sampai, rencana berada di puncak telah tercapai, kini menuju rencana selanjutnya, Sagara Anakan yang begitu sangat indah……
Setelah istirahat dan sarapan, pukul 10 kami memulai penurunan gunung menuju Sagara Anakan,  lebih lambat dari pada para pendaki bule yang telah 2 jam lebih dulu menuju danau. Jangan kira menuruni rute ini adalah hal mudah, turunan 90 derajat sering kami temui sepanjang jalan, jalanan setapak yang licin penuh batu tajam membuat langkah harus diperlambat, cuaca yang berubah dari panas hingga berkabut tebal silih berganti menguji ketahanan tubuh kami, kali ini hampir semua anggota team merasakan pegal di kaki, beban rangsel yang masih berat membuat turunan ini seakan  menekan dan memojokan, setelah 2 jam perjalanan team akhirnya menyerah… kita harus kembali istirahat dan makan….., menu mie rebus  dan susu panas menjadi sangat melezatkan, stamina yang telah melemah berangsur naik, menambah semangat untuk segera sampai ke danau… terbayang mandi air danau yang segar atau air panas yang tersedia…..
Setelah melewati beberapa bukit dan padang savanna di lembah Rinjani akhirnya jam 3.30 kami sampai didanau, pemandangan yang sangat indah…, apa yang biasanya kami lihat dalam foto dan brosur kini terpampang didepan mata, rasa tidak percaya kami semua telah ada di Sagara Anakan Gunung Rinjani…, namun sama seperti saat di Palawangan Sembalun, kami tidak kebagian tempat untuk mendirikan tenda, semua lokasi telah terisi oleh para petualang, para pendaki, juga warga yang ritual dan hanya memancing. Jika dijumlah mungkin nyampai ke 1000 orang, sebagian pendaki adalah para peserta yang ikut dalam program petualangan yang diselenggarakan oleh salah satu TV swasta. Begitu sangat ramai danau ini, seakan seperti dusun kecil di pinggir danau, sungguh sesuatu yang tidak terbayang sebelumnya…… ini PASAR MALAM PETUALANG…. Ha ha…..
Berbagai kegiatan dilaksanakan penyelenggara jambore petualang itu, namun kami tidak dapat mengikuti kegiatan seluruhnya, ekspedisi yang kami bawa memiliki tanggung jawab besar selain hiburan semata, dibalik kegiatan mereka kami sisipkan tujuan ekspedisi untuk mengenalkan sumedang pada semua orang sebanyak-banyaknya, baik itu seni, budaya, adat, ataupun makanan has sumedang. Pakaian pangsi yang kami bawa cukup menyita perhatian…. Jika saja ada pemilihan team yang popular saat itu tentu itu adalah team Ekspedisi Khanoman Sumedang. Dan para pendaki selalu bilang kalo kami adalah team Tahu Sumedang…. Ini membanggakan..
Keterbatasan tempat mendirikan tenda membuat kami harus terpisah 1,5 km jauhnya dari para petualang yang lain, tidak apa, sunyinya tempat camp kami membuat kami mendapat kesempatan beristirahat yang cukup tanpa ada gangguan hiburan dadakan dari para pendaki, seperti main gitar sampai pagi…. Camping dipinggir danau memandang gunung  berapi Baru Jari yang bisa sewaktu-waktu meletus merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan, dan memiliki sensasi petualangan yang berbeda dari pendakian yang biasa kami lakukan  sebelumnya, makan malam pun semakin terkenang ketika kami mendapatkan ikan carper seberat setengah kilo, dari pancing yang kami temukan disepanjang pantai danau ini, sungguh mengejutkan….. kami makan besar….. kecuali Ilham yang memang vegetarian asli….
Jam 9 malam semua sudah terlelap dalam tenda masing-masing, mempersiapkan diri dan stamina untuk rute akhir menuju Senaru, tidak ada begadang yang biasanya kami lakukan bila digunung, kami benar-benar kecapaian… atau kerena menu ikan yang kami makan…entahlah…. Yang penting tidur…
Hari keenam
Jam 5 pagi semua sudah terbangun, udara memang lebih dingin dari pada ngecamp di Palawangan Sembalu, tapi kami tetap merasakan tidur yang nyenyak, itu terbukti dengan obrolan pagi hari bahwa semua anggota team bermimpi. Susu hangat, kopi, bubur kacang yang masih saja ada tersisa, nasi liwet santan dan mie goreng pedas menjadi menu pagi hari itu…. Semua makan lahap, entah dari mana selera makan kali ini besar sekali, tidak ada yang tersisa…ah….. nikmat sekali
Jam 7 pagi rombongan pendaki bule dan pendaki lokal mulai meninggalkan Sagara Anakan menuju Senaru, jumlah ratusan orang membuat jalan seperti arak-arakan rangsel berwarna-warni berbagai merk, setelah berphoto dan merapikan seluruh perlengkapan, kami pun akhirnya berangkat pulang menuju Senaru, berjalan menyusuri rute tersulit ini direncanakan sampai  jam 7 malem…. 12 jam perjalanan, jangan dibayangkan…. Ayo team segera bergerak….
Kekompakan team diuji disini, beberapa anggota team bergerak cepat mendaki ke Palawangan Senaru, sedangkan saya dan Adhit tentunya bergerak seperti biasa….lambat, beban dirangselku tidaklah berkurang banyak, tenda masih menjadi masalah besar tersimpan sebagai pemberat abadi rangselku, sedang Adhit tetap juga dengan beban 2 kamera dan accu yang dibawanya ditambah lutut kaki kanannya yang mulai bermasalah, tertatih lesu… tapi saya tidak bisa membawa bebannya…. Saya juga berat…..
Untung masalah umur yang saya miliki tidak terlalu dipermasalahkan anggota team yang lain … walaupun sebenarnya saya keletihan juga… untung Adhit menjadi tameng kelelahanku… berjalan lambat disampingnya yang memang mengalami kesakitan menjadi penutup yang sempurna untuk menutupi kekuranganku itu… he he nuhun dit…, aku lewati Senaru tanpa terlihat capai… padahal…….
Rute Senaru memang berat, lebih berat dari rute Sembalun, berjalan di tebing yang memungkinkan tertimpa jatuhan batu adalah tangtangan tersendiri dari Senaru, Tapi disinilah tangtangan sebenarnya… dalam rasa lelah pun kita harus tetap waspada, bukan tidak mungkin kita sedang sial dan tertimpa batu gunung Rinjani ini…. Untung ini tidak terjadi. Setelah makan siang  jam 12an di POS Palawangan Senaru team melanjutkan perjalanan menuju POS III ( 1 jam perjalanan) yang yang disebut sebagai POS Surga kerena disanalah Air biasanya ada, namun harapan itu menghilang kerena pada kenyataannya sungai itu kering, bukan kami saja yang kecewa, 70an bule yang naik lewat Senaru pun lesu, hanya terdiam mengatasi rasa lelah tanpa diguyur sejuknya mata air di POS III ini.
POS II  Senaru kami lewati 2 jam kemudian, untunglah disini air tersedia banyak…. Bikin kopi  dan susu panas menjadi menu istirahat kami. Perjalanan dilanjutkan tetap dalam langkah lambat, perjalanan lambat itu membuat kami harus kemalaman dirute Senaru ini, suasana begitu mencekam, suara hewan hutan menambah kecemasan seluruh anggota team, untunglah kami tidak mengalami hal yang tidak kami inginkan, kami aman melewati semua POS di Senaru tanpa bertemu hewan seperti, kucing hutan, macan tutul, atau babi hutan.
Tiba di Gerbang Taman Nasional Gunung Rinjani gerbang Senaru  jam 10 malam menjadi saat yang melegakan, Kami akhirnya sampai dan menyelesaikan seluruh perjalanan pendakian ke gunung terkenal sedunia ini…. KAMI BERHASIL…..!!!!
Mari kita kembali ke Sumedang lagi….., dan berbagi cerita kepada anakku Lenggang, istriku, keluargaku, dan semua teman-temanku….

Perjalanan pulang ternyata tidak bisa langsung dilakukan malam itu juga, ketidaktersedianya kendaraan menjadiakan kami terpaksa harus menginap semalam di POS pendaftaran di desa Senaru, rasa kecewa terasa di seluruh anggota team, tidak apalah toh kami bersama 30 pendaki dari berbagai daerah yang tidak kebagian mobil dan harus brangkat pagi hari…
Tanpa peneriman dari petugas TN gunung Rinjani, kami memenuhi semua ruangan kantor TNGR, termasuk halaman kantor yang menjadi area kamping dadakan, untunglah air yang berlimpah membuat suasana sedikit ada kegembiraan, sebagian ada yang mandi, ada juga yang hanya cuci muka saja, stop kontak menjadi sasaran hampir seluruh pendaki untuk mengecash baterai HP yang habis saat di gunung tadi, aku sendiri sehabis cuci muka langsung berbaur dengan teman-teman pendaki dari Jakarta dan Palu, ngobrol sampai pagi hari habiskan malam terakhir dipulau Lombok dengan bergadang berbagi cerita…. 4 anggota team yang lain semua tertidur… selamat beristirahat kawan…
Hari ketujuh
Jam 6 pagi kami sudah meninggalkan POS Senaru dengan menaiki 4 ojek yang harganya mencekik, 10 menit perjalanan harus ditukar dengan Rp. 75.000,- menuju terminal kecamatan yang sedang ramai dengan peserta gerak jalan menyambut HUT RI, tidak menunggu lama kami langsung menaiki mobil Elf menuju kota Mataram yang dapat dicapai selama kurang lebih 3,5 jam perjalanan. Sangat melelahkan… namun rasa lelah itu terbayarkan setelah kami bertemu teman seangkatanku yang bekerja di Dinas Kehutanan di Mataram, sebenarnya kami berkenalan lewat Face Book, tapi kerena sedaerah, maka persaudaraan kedaerahan membuat perkenalan kami cepat mencair, kami semua diundang makan siang disebuah tempat makan yang cukup terkenal dan ramai, aslinya……enak, walau terasa agak kagok dan kaget, habis juga porsi makan yang tersedia…, Teman sekaligus saudara kami itu bernama bapak Ismail Tansar…. (Nama panjangnya tidak diberikan… tapi saya tahu…. Tansar adalah Tanjung Sari…. Asal dia lahir he he….).
Jangan kira kebaikan Bapak Ismail berhenti sampai disini, tiket penyebrangan Fery pun dia belikan untuk kami berlima……serasa durian runtuh nih…. Nuhun pisan pak…..
Jam 1 siang kapal fery meninggalkan pulau Lombok, 4 jam nanti kami akan tiba di pulau bali… dan lanjutkan langsung menuju Bayuwangi…itu rencananya…Rencana berubah total, di kapal penyebrangan itu kami kembali bertemu dengan para pendaki yang pernah kami temui saat diGunung rinjani, jadilah acara reunion terjadi di kapal itu… dan rencana berubah sesaat setelah kami sampai di pelabuhan Padang Bai, Seorang teman pendaki bernama Iwan mengenalkan kami kepada seorang Bali yang akhinya memaksa kami untuk tinggal semalam di Bali…. Setelah berembuk sebentar…. Maka jadilah kami LIBURAN DI BALI…..
Carter mobil Rp. 200.000,-  jam 8 sampailah kami di Gianyar, menginap dengan jamuan istimewa dari belih Ari seorang Brimob yang penuh wibawa, ini benar-benar hiburan……asikkkkkk…..
Jam 10 malem kami mulai keliling di pantai Kuta dan sekitarnya….. ga akan kami ceritakan bagaimana menyenangkan perjalanan malam itu, biar kami sendiri yang tahu… he he……
Jam 2 malem petualangan malem itu kami sudahi… istirahat, persiapan besok menuju bayuwangi….
Hari kedelapan
Jam 8 pagi kami meninggalkan Denpasar dengan minibus yang tidaklah penuh sesak seperti biasanya, menuju pelabuhan Gilimanuk yang akan kami tempuh selama 4 jam perjalanan, rasa kantuk sisa malam tadi sewaktu di pantai Kuta kemarin malem digenapi dengan tidur sepanjang perjalanan itu, entah kerena kecapaian, tidak terasa jam 12 kami sudah sampai di perbatasan antara pulai Bali dan Jawa, perut yang belum terisi nasi, diisi di warteg sepinggir pantai, menunya hanya sayur tahu dan capcay… tapi rasanya lezat sekali, tidak ada yang tersisa…. Dan harganya MURAH…  hanya  Rp.32.000,- berlima.
Tiket seharga Rp.6.000,-/ orang membawa kami meninggalkan Bali dengan segala kenangannya, tidaklah lama di laut,  30 menit kemudian kita sampai diBanyuwangi, dan sialnya… kereta api baru berangkat meninggalkan kami hanya 5 menit sebelum kami sampai, dan kami harus menunggu kereta selanjutnya menuju Surabaya jam 10 malem nanti , atau menuju Jogja esok pagi…., akhirnya diputuskan kita naik kereta api bisnis menuju Surabaya malam ini….artinya kita nunggu 10 jam diBayuwangi…..,  lama menunggu akhirnya anak-anak mencari Warnet dan main internet, sesuatu yang seminggu tidak kita temui…. Jam 10 lebih 12 menit kereta Api bisnis Mutiara Timur meninggalkan Bayuwangi yang membosankan….. kembali ke kereta kami pun tertidur….
Hari kesembilan
Kami baru terbangun ketika kereta api telah sampai di  Surabaya jam 5.45 pagi, bergegas membeli tiket, namun sayang tiket  Rp.36.000,- Surabaya-Kiaracondong yang kami beli adalah tiket tanpa tempat duduk… artinya hanya keberuntungan yang akan membawa kami duduk nyaman dikereta nanti….., pemberangkatan pertama kereta tidak seperti yang kami bayangkan… penuh sesak sekali, dan seperti yang tertera ditiket, akhirnya kami harus berdiri berdesakan bersama, ayam, bebek dan juga kambing yang dibawa para penumpang….. syukuri saja…inilah KERETA EKONOMI YANG EKONOMIS…
200KM kami lewati dengan berdiri dan duduk di pintu masuk atau gerbong…. Melelahkan sekali, tapi untunglah keberuntungan itu mulai dating juga pada kami, di jember akhirnya kami semua mendapat tempat duduk….. saatnya tidur….. dan bangunkan kami di Bandung nanti…
Jam 10.36  atau lebih dari 16 jam dikereta kami akhirnya sampai juga di bandung…… Jemputan sudah menunggu, kami pun langsung meluncur ke bandung setelah sebelumnya makan Nasi Goreng terasi yang pedas entah dijalan apa…lupa….perut kenyang… di mobil kami kembali tidur.
Hari kesepuluh
Jam 1.23 kami akhirnya sampai disumedang….. tidak ada penyambutan, semua sepi…. Tapi kami tetap  BANGGA DAN BAHAGIA, Ekspedisi Khanoman Sumedang ‘ Dari puncak Tampomas menuju puncak Rinjani’ telah selesai kami laksanakan…
Hidup Sumedang….!!!
Hidup Khanoman Sumedang…!!!!
Pernak-pernik Perjalanan
1.      Tissuphobia
Jangan sepelekan ketakutan ini jika anda berada diGunung Rinjani…orang biasanya takut ulat, kucing, ular, ketinggian, ataupun hal lainya…. Namun bagi kami di Rinjani tissulah yang harus kami takuti, aneh ya… bukankah tissu putih… menakutkan dari mana???
Pendakian yang menghabiskan waktu berhari-hari tentu saja kebutuhan akan BAB tetap harus dijalankan, atau kalau tidak perut kita akan tidak nyaman, bagi para pendaki dimanapun tempatnya asal ada tissu kebutuhan BAB itu dapat dilaksanakan… celakanya…ribuan pendaki itu menyebarkan WC dadakan hampir diseluruh area perkemahan, dan tempatnya dapat dilihat hanya dengan melihat ceceran tissue bekas BAB tersebut, hati-hati pijakan anda….. atau kalo anda berani menyinjaknya  silakan injak tissue itu…ada kejutan dibawahnya… anda berani?  Maaf kami Tissuphobia… he he…
2.      Air Danau Sagara Anakan
Kebutuhan air minum pada saat pendakian begitu vital bagi seluruh pendaki,  para pendaki ke gunung Rinjani akan mendapat pengetahuan untuk dapat mengetahui dimana saja lokasi mata air yang layak untuk diminum, namun jika keberadaan air itu terlalu mendesak, maka air danaupun dapat kita gunakan sebagai air minum…, tapi menurut kami janganlah minum Air danau Sagara Anakan….. rasanya Kacau…. Hampir sama seperti permen nano-nano…aneh…, bukan menyegarkan namun mencekik dan semaki haus…. Tapi tenang Ilham punya solusinya… teh celup jadi penawar yang murah meriah…. Warnanya menarik…. Dan soal rasa… SAMA…. NGGAK ENAK…!!!!
3.      Nasi Goreng Porter
Menu wajib bagi para pendaki biasanya yang murah dan dan segala instan, baik itu segala macam mie, olahan bubur, sampai minuman sereal. Tapi tidak bagi para pendaki yang ada di Rinjani…. Menu sore hari adalah Nasi goreng, dengan telor mata sapi lengkap dengan kerupuk udangnya… jangan Tanya segimana enaknya… semua yang makan pasti hanya menyisakan piringnya saja….. artinya enak sekali… he he…itu bukan bukan pengalaman kami para pendaki local…itu sebagian dari menu bagi para Bule… kami tetap makan mie rebus… he he…
4.      Tahu Sumedang Asli
5.      Bubur Kacang atau Sekoteng
6.      Babi Hutan atau Anjing
7.      Peta Perjalanan
8.      Plecing Kangkung khas Lombok
9.      Pecel jogja
10.  Karinding Sumedang

1 komentar:

  1. Ass.. kang estu kumaha damang?? hatur nuhun taun baruan kamari tiasa ngiring di tendana.. hehe :D

    BalasHapus